Latar Belakang & Sejarah Konflik Timur Tengah
Oleh : Dr. Jeff Hammond
Refrensi: http://indonesia.faithfreedom.org/forum/duduk-perkara-masalah-palestina-t5368/?sid=1b981bc402c61e2c520d17f5a59f4d71
Ada perang lagi di Timur Tengah.
Hamas dan Israel berperang di Gaza dan di Tepi Barat. Hizbollah dan
Israel berperang di Libanon. Al Qaeda mengancam
melibatkan diri. Apa artinya? Apa latar belakangnya?
Apa nanti kesudahannya? Untuk memahami hal-hal
yang sangat mempengaruhi kedamaian dunia dan
meningkatnya terorisme masa kini, kita harus kembali
dalam sejarah untuk memahami akar masalah yang kini
buahnya sedang kita makan.
Kalau kita tidak belajar dari sejarah maka kita akan
mengulangi kesalahan dan tragedi sejarah.
Dalam seri artikel ini kita akan menyelidiki sejarah
daerah Palestina dari zaman purba sampai masa kini.
Kita akan menyelidiki sejarah kependudukan Palestina,
konflik-konflik, penjajahan bahkan sampai nubuatan
Firman Tuhan tentang masa depan Timur Tengah
supaya kita dapat lebih memahami apa yang ada di
belakang semua konflik masa kini.
Artikel 1: Siapakah Penduduk Asli Wilayah Palestina-
Israel?
Pertanyaan pertama yang kita perlu jawab adalah siapa
mempunyai hak milik atas Palestina dan siapa
penduduk asli di wilayah Palestina atau Israel? Orang
Israel? Sama sekali tidak! Orang Palestina? Juga tidak!
Kalau begitu siapakah penduduk asli wilayah yang
sekarang disebut Palestina dan Israel? Dalam catatan
sejarah sekitar 2000 SM di zaman Abraham, yang
diklaim oleh Yahudi, Kristen dan Islam sebagai bapa
rohaninya, ada 10 suku yang mengembara di wilayah
Palestina, yaitu Keni, Kenas, Kadmon, Kanaan, Feris,
Het, Refaim, Amori, Girgasi dan Yebus (Kej. 15:19-21).
Sepuluh suku itu bukanlah orang Palestina ataupun
orang Israel masa kini.
Bangsa Israel baru masuk dan menduduki wilayah
Palestina pada tahun 1460 SM waktu Yoshua
memimpin Israel untuk menduduki dan menguasai
Kanaan atau wilayah Palestina lalu Israel berjaya di
Palestina setelah Tuhan menghalau 7 suku, yaitu, Het,
Girgasi, Amori, Kanaan, Feris, Hewi dan Yebus (Ul.7:1).
Yerusalem hanya menjadi Ibu Kota Israel dalam
Kerajaan Daud sekitar tahun 1000 SM.
Sejak waktu itu ada banyak kerajaan yang masuk dan
menjajah daerah itu sebelum mereka pun diganti
penguasa lainnya. Sejarahnya sbb:
587 sM. Israel dijajah Kerajaan Babil & Media-Farsi
457 sM Israel diberi kemerdekaan oleh Koresy, Raja
Farsi (Ezra 1)
390 sM. Israel dijajah Mesir
332 sM Israel dijajah Kerajaan Yunani
63M Israel dijajah Kerajaan Romawi
70 M Israel dicerai-beraikan antara berbagai bangsa
dan hanya sedikit orang yang lagi tinggal di wilayah
Palestina.
321M Kaisar Romawi, Konstantin, menjadi Kristen –
masa Bizantin
638M Tentara Jihad mengalahkan Kerajaan Romawi dan
masa kekuasaan Bizantin berakhir dan zaman
kekuasaan Islam mulai di Palestina.
1099-1187M Perang Salib – perebutan Palestina.
Tentara Jihad Islam mengalahkan laskar-laskar Perang
Salib dari Eropa.
1187-1250M Zaman Islam dalam Khalifah Ayyoubit
1250-1516M Zaman Islam dalam Khalifah Mameluk
1516-1917M Zaman Islam dalam Khalifah Ottoman
1918-1945 Zaman Inggris berkuasa di Palestina
1946 Wilayah Palestina dan Trans-Yordan dibagikan
untuk membentuk negara Yordania sebagai negara Arab
Palestina yang diakui PBB.
1948 Israel juga diakui resmi oleh PBB sebagai negara
Yahudi Palestina.
Apa Artinya "Palestina"?
Palestina di sepanjang sejarah tidak pernah merupakan
nama bangsa atau negara. Palestina adalah daerah
geografis saja untuk menunjuk suatu wilayah di Timur
Tengah.
Kata “Palestina” berasal dari Bahasa Ibrani, "peleshet"
yang berarti “Orang Laut”. Yang disebut orang Filistia
atau Filistin adalah para migran yang berasal dari Mesir,
Turki dan Yunani yang pindah ke daerah pesisir Israel
dan tinggal di sana. Antara kota yang didirikannya
adalah Gaza, Askalon, Ashdod, Ekron dan Gat. Dari
zaman Herodotus, orang Yunani menyebut pantai timur
Laut Tengah sebagai "Siria Palestina". Orang Filistin
disebut sebagai keturunan Kasluhim, anak Mesir dalam
Kej. 10:14 dan Kel. 13:17. Orang Filistin terkenal
sebagai bangsa yang melaut dan merupakan suku non-
Semitik, non-Arab dan non-Ibrani, tidak berbahasa Arab
dan tidak pernah berhubungan sama sekali dengan suku
atau kebudayaan Arab.
Jadi, siapakah berhak atas wilayah Palestina-Israel?
Semua sumber sejarah, baik Alkitab maupun Al Qur’an,
menyatakan bahwa tanah Palestina adalah Negeri
Perjanjian yang telah diberikan Allah kepada bangsa
Israel .
Surah Al Maidah 5:20-21,
Keseganan Bangsa Yahudi Mentaati Perintah Nabi Musa
a.s. Memasuki Palestina dan Akibatnya: “Dan ingatlah,
ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku,
ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat
nabi-nabi di antaramu dan menjadikan kamu bangsa
yang merdeka. Dan diberikan-Nya kepadamu apa-apa
yang belum pernah diberikan kepada seorangpun di
antara umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah
suci PALESTINA yang telah DITENTUKAN Allah
bagimu.”
Keluaran 6:7,
Perjanjian Allah kepada Musa agar Israel masuk
Palestina sebagai milik Israel : “Aku akan membawa
kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan
memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan
Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi
milikmu; Akulah Tuhan.”
Apa orang-orang Arab masa kini berhak memiliki
Palestina?
Tokoh-tokoh Arab sejak dulu telah mengaku bahwa
tidak pernah ada bangsa Palestina, suku Palestina,
bahasa Palestina atau negara Palestina. Konsep itu
adalah ciptaan modern untuk melawan Israel.
Pada tahun 1937, pemimpin Arab, Auni Bey Abdul Hadi,
telah memberitahu Komisi Peel di Inggris: "Tidak ada
bangsa yang disebut Palestina. Palestina adalah istilah
ciptaan kaum Zionis. Kata Palestina adalah asing buat
kami."
Tahun 1946, Profesor Arab Sejarah Timur Tengah di
Universitas Princeton, Philip Hitti , menyampaikan kepada
Komisi Investigasi Palestina Anglo-Amerika: "Adalah
pengetahuan umum, bahwa tidak pernah ada bangsa
yang disebut Palestina dalam sejarah."
Pada 31 Maret, 1977, Zahir Muhseinwas , Anggota
Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO)
dikutip dalam koran Belanda sbb:
“Tidak ada rakyat Palestina. Ciptaan negara Palestina
hanyalah sarana untuk melanjutkan perjuangan kami
melawan negara Israel demi persatuan Arab .
Sesungguhnya hari ini tidak ada perbedaan antara
orang Yordan, Palestina, Suria dan Lebanon. Hanya
untuk alasan politik dan demi taktik kami membicarakan
eksistensi rakyat Palestina, karena kepentingan bangsa-
bangsa Arab menuntut agar kami menciptakan
eksistensi “rakyat Palestina" agar melawan Zionisme.
Demi alasan taktik saja, Yordania, negara berdaulat
dengan perbatasan yang sudah jelas, TIDAK dapat
menuntuk klaimnya atas Haifa dan Jaffa, sedangkan
sebagai seorang Palestina, tak diragukan bahwa saya
DAPAT menuntut Haifa, Jaffa, Beer-Sheva dan
Yerusalem . Namun, pada saat kami memperoleh
kembali hak kami atas seluruh wilayah Palestina, kami
tidak akan menunggu satu menit untuk mempersatukan
Palestina dan Yordan.”
Walid Shoebat, seorang mantan aktivis PLO mengaku,
“Bagaimana bisa jadi bahwa pada tanggal 4 Juni 1967,
saya adalah seorang Yordan lalu dalam semalam saja
saya menjadi seorang Palestina? ... Kami tidak
keberatan dengan pemerintahan Yordan. Pengajaran
penghancuran Israel adalah bagian inti kurikulumnya ,
namun kami telah menganggap diri orang Yordan
sampai orang Yahudi kembali menguasai Yerusalem.
Lalu tiba-tiba kami mulai disebut orang Palestina –
mereka mencabut bintang dari bendera Yordan lalu
dalam sekejap mata kami sudah memiliki bendera
Palestina. ”
Artikel 2: Allah Berkuasa di Wilayah Palestina-Israel
Daniel 2
Sejarah Wilayah Palestina-Israel ada di tangan Allah.
Sejak waktu Allah berfirman kepada Musa dalam
Keluaran 6:7, Palestina dinyatakan sebagai milik Allah
sendiri yang diserahkan-Nya kepada bangsa Israel.
Bahwa tanah itu diserahkan Allah kepada Israel secara
sah diteguhkan dalam Al-Qur’an, Surah Al Maidah
5:20-21.
Namun, Israel ternyata adalah bangsa yang keras
kepala, pemberontak dan pelanggar hukum Allah di
sepanjang sejarah dan sering dimurkai Tuhan karena
dosa-dosanya.
Setelah Masa Jaya Israel dalam pemerintahan Saul,
Daud dan Solomon terjadi perpecahan sehingga muncul
dua Kerajaan di Israel sekitar tahun 922sM. Sepuluh
suku di bagian utara Israel yang disebut Bani Israel ,
berpisah dari dua suku di bagian selatan Israel yang
disebut Bani Yehuda . Perpecahan dalam bangsa Israel
ini membuat dilema bagi Bani Israel karena pusat
ibadah dan Bait Suci ada di Yerusalem di daerah Bani
Yehuda. Oleh sebab itu Bani Israel membuat pusat
ibadah baru di Dan di bagian utara.
Penolakan Bani Israel atas perintah-perintah Allah
mengakibatkan Bani Israel diserahkan ke tangan
Kerajaan Asyur sekitar tahun 722sM sehingga Bani
Israel sampai sekarang lenyap terhilang sebagai
kerajaan terpisah sesuai dengan nubuatan-nubatan
Firman Tuhan dan akan dipulihkan dalam Kerajaan
”Daud” atau Bani Yehuda (Yehz 37; Amos 9).
Bani Yehuda tidak kelihangan identitasnya sebagai
”Israel” dan hanya masuk ke dalam perhambaan Babel
selama 70 tahun dari zaman Nebukadnezar sampai
zaman Koresy.
Nubuatan Daniel (Dan.2) menyatakan bahwa akan ada
lima kerajaan yang akan berkuasa dan mempengaruhi
sejarah Timur Tengah, yaitu Kerajaan Babel, Kerajaan
Medi-Farsi, Kerajaan Yunani, Kerajaan Roma dan
Kerajaan Allah yaitu, “Allah semesta langit akan
mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa
sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan
beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan
meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi
kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya,”
Dan.2:44.
Persis seperti dinubuatkan Daniel, dan juga Yesaya,
Yehezkiel dan Yeremia, Allah yang mengangkat dan
menurunkan bangsa-bangsa dan raja-raja, telah
menguasai sejarah, melakukan penghukuman-Nya dan
mempersiapkan Wilayah Palestina-Israel untuk peristiwa
yang terajaib dalam sejarah, yaitu lahirnya Mesias, yang
akan mengubah sejarah dunia.
Maka jelaslah, bahwa Wilayah Palestina-Israel adalah
tanah milik Allah dan dia berhak memberikannya kepada
siapa saja yang dikehendaki-Nya. Mengapakah Israel
tidak pernah diizinkan hidup dengan tenang dan damai
di wilayah itu sepanjang sejarah dan apakah Tuhan
dapat mencabut hak-Nya yang sudah diberikan-Nya ke
Israel? Kita harus bertanya lagi, siapakah yang
sebenarnya berhak atas wilayah itu? Siapakah yang
berkuasa untuk menentukan sejarahnya dan apa
Kerajaan Allah ini yang dikatakan “kekuasaan tidak akan
beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan
meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi
kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya”?
Pemahaman hal-hal ini dapat saja mengubah dan
membentuk pandangan kita tentang Timur Tengah dan
berbagai nubuatan Firman Tuhan tentang peristiwa-
peristiwa yang akan terjadi di wilayah itu di akhir
zaman. Edisi berikut kita akan membahas kedatangan
Kerajaan Allah di wilayah Palestina-Israel di zaman
Yesus dan implikasinya untuk kita semua.
Artikel 3: Palestina di Zaman Romawi
Zaman Roma-Byzantin (63 sM-638M)
Selama hampir tujuh abad antara 63 sM dan 638 M,
wilayah Palestina terjepit di antara dua kerajaan besar
yaitu antara Kerajaan Farsi dan Kerajaan Roma/
Byzantin.
Menurut ahli sejarah Timur Tengah, Bernard Lewis,
persaingan antara Farsi dan Roma-Byzantin, menjadi
hal utama dalam percaturan politik di kawasan itu
sampai kebangkitan Khilafah Islam, yang
menghancurkan Kerajaan Farsi dan sangat melemahkan
Kerajaan Roma-Bizantin sehingga terpukul mundur dari
Timur Tengah.
Roma Berkuasa
Pada tahun 63 sM tentara Roma yang dipimpin Jenderal
Pompey telah memasuki dan menguasai wilayah
Palestina sehingga Kaisar Julius berkuasa dari Roma ke
Palestina bahkan di Mesir. Kuasa Kerajaan Roma telah
meluas dan bertambah sehingga pada tahun 37 sM
Herodes Agung diangkat menjadi raja jajahan Roma itu.
Raja Herod telah memerintah atas seluruh Palestina
dari tahun 37 sM sampai tahun kelahiran Yesus, 4 sM.
Dalam pemerintahan Romawi, Yerusalem bertambah
besar ke arah utara. Proyek pembangunannya termasuk
Tembok Kedua, Kaabah Herodes, Benteng Antonia dan
Menara Daud. Juga didirikan istana-istana dan gedung
umum seperti pasar, toko dan teater. Walaupun Tanah
Palestina dikuasai oleh Kerajaan Roma, Bait Suci
dibangun kembali lebih besar dan lebih megah daripada
Bait Suci di zaman Salomo.
Setelah Israel mengalami masa perhambaan Asyur,
Babel, Mesir, Media-Farsi dan Yunani, kini giliran Roma
menjajah wilayah Israel-Palestina dan ternyata ini
menjadi masa pahit bagi Israel yang tidak lama
kemudian mengalami penghancuran dan penyingkiran ke
berbagai bangsa lain.
Yesus dan Kerajaan Allah
Pada zaman Kerajaan Roma inilah Yesus lahir.
Yesus
telah hidup di wilayah Israel-Palestina dari tahun 4 sM
sampai tahun 30 M. Dia lahir pada waktu Kaisar
Agustus mengeluarkan suatu perintah sensus yaitu
pendaftaran semua orang di seluruh dunia. Ini terjadi
juga pada waktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.
Luk 2:1-2.
Mendahului pelayanan Yesus, Yohanes Pembaptis telah
mulai memberitakan Kerajaan Allah pada tahun ke-15
Kaisar Tiberius. Pada waktu itu Pontius Pilatus menjadi
wali negeri Yudea, dan Herodes Antipas menjadi raja
wilayah Galilea, Luk 3:1. Pontius Pilatus yang kemudian
memimpin pengadilan terhadap Yesus dan
memerintahkan agar Dia disalibkan (Mark 15:1-15; Mat
27:2, 11-26; Luk 23:1-25; Yoh 18:28--19:31; Kis 3:13;
4:27; 13:28; 1Tim 6:13).
Sebelum Yesus disalibkan ada pemberontak-
pemberontak Yahudi yang melawan pemerintahan
Roma. Ada yang mengklaim diri ”Mesias”. Jadi waktu
Yesus disebut ”Mesias” juga Dia hanya dianggap
sebagai salah satu pemberontak seperti yang lain
sebelumnya dan agar menjamin penguasa Romawi
memutuskan untuk menghukum mati Yesus, para imam,
ahli Taurat, Farisi dan Saduki mengemukakan bahwa
Yesus telah mengklaim dirinya ”Raja” dan dengan
demikian musuh Roma. Maka Yesus disalibkan sebagai
seorang penjahat dan pemberontak terhadap otoritas
Roma.
Penghancuran Bait Suci dan Kota Yerusalem
Ketidak senangan Israel dengan Kerajaan Roma makin
lama makin nyata sehingga hukuman Roma makin keras
dan orang Yahudi makin ditindas. Akhirnya
pemberontakan orang Yahudi, yang dipimpin kaum
Zelot, terjadi pada 66 M dan mereka mengusir penguasa
Roma dan memerintah di Yerusalem sampai tanggal 9
bulan Av 70 M.
Demi menyelamatkan bangsa Israel, umat Yahudi telah
mempersembahkan ratusan ribu hewan sebagai korban
kepada Tuhan dengan mengharapkan keselamatan dari
Allah tetapi perbuatan itu akan sia-sia:
1.Karena Yesus telah menyatakan Bait Suci, yang dulu
disebut ”Rumah Bapa-Ku”, Yoh 2:13-17, bukan lagi
milik Allah tetapi milik Yahudi ”rumahmu” yang akan
ditinggalkan sunyi senyap. Waktu Yesus keluar dari Bait
Suci ternyata hadirat Allah pun keluar, Mat 23:37-24:1.
2.Waktu Yesus disalibkan, tirai Bait Suci dirobek dari
atas ke bawah. Bapa telah merobeknya untuk
menunjukkan kepada semua orang bahwa hadirat Allah
tidak ada di dalam gedung Bait Suci, Mat 27:51.
3.Yesus bernubuat bahwa Bait Suci itu akan
dihancurkan dan tidak akan tertinggal satu batu di atas
yang lain. Ini akan mengekspos bahwa hadirat Allah
tidak ada lagi di Bait Suci jasmani tetapi hadirat Allah
sekarang ada di dalam Bait Suci rohani, Luk 21:5-6;
21:20-24;1Kor 3:16 ; Ibr.9:24 ;Why 11:19.
Pada tahun 70 M, Yerusalem dibumihanguskan oleh
tentara Roma di bawah pimpinan Jenderal Titus, yang
atas perintah Kaisar Vespanianus, mengalahkan
pemberontakan itu dan menghancurkan dan membakar
seluruh Yerusalem dan Bait Suci sampai tersisa hanya
sebagian tembok barat Bait Suci, yang kini terkenal
sebagai Tembok Ratapan. Menurut ahli Talmud,
Bamidbar Rabah, orang Yahudi sampai masa kini, tetap
percaya ada Hadirat Allah (shekinah) di sana, dan
Tembok Barat itu tetap menjadi tempat paling kudus
bagi penyembahan Yahudi di Yerusalem. Lebih dari
sejuta orang Yahudi atau 25% populasi tewas dalam
peperangan itu dan 10% dijadikan budak. 50% lari
menjadi pengungsi di berbagai bangsa di Eropa dan di
Timur Tengah dan hanya 10-15% tertinggal di wilayah
Palestina.
Pada waktu penghancuran Yerusalem itu umat Kristen
telah luput dan terpelihara karena mereka telah
mentaati nasihat dan nubuat Yesus tentang serangan
dan pembinasaan yang akan terjadi atas Yerusalem,
Mat 24:15-20; Luk 21:20-24.
Masada
Pemberontakan Israel dilanjutkan sampai terjadi tragedi
di sebuah bukit di bagian padang pasir Yudea dekat
Laut Mati yang disebut Masada.
Menurut Flavius Josephus, ahli sejarah Roma di abad
pertama, Masada dibangun sebagai benteng pertahanan
oleh Raja Herodes Agung namun kaum Zelot Yahudi,
yang dipimpin Eleazar ben Simon berhasil mengalahkan
tentara Roma di Masada sehingga menguasainya dari
tahun 68 M. Pada tahun 70 M, beberapa Zelot dan
orang Yahudi lainnya yang telah lari dari penghancuran
Yerusalem telah berkumpul di Masada.
Lalu pada tahun 72 M, Gubernor Yudea Romawi Lucius
Flavius Silva menyerang Masada dan mengalahkannya
pada tanggal 16 April tahun 73 M. Daripada ditangkap
dan menjadi budak, semua orang Yahudi di Masada
telah bunuh diri. Maka berakhir pulalah Negara Yahudi II
dan mayoritas besar orang Yahudi menjadi diaspora
yang dicerai-beraikan di antara bangsa-bangsa
menggenapi berbagai nubuatan Firman Tuhan, Luk
21:24; Ul. 28:64-67; Im 26:21-42.
Kaisar Hadrian
Pada tahun 118 M, Hadrian menjadi Kaisar Roma dan
dialah Kaisar yang pertama yang toleran kepada orang
Yahudi. Dia memberi izin untuk orang Yahudi kembali
ke Yerusalem dan membangun Bait Suci. Mereka
membuat persiapan membangun kembali kaabah itu,
namun Hadrian tiba-tiba menarik izinnya dan menyuruh
mereka membangun di tempat lain. Dia juga mulai
mengusir orang Yahudi ke Afrika Utara.
Sesudah Hadrian meninggalkan Yerusalem, pada tahun
132-135 M pemberontakan Bar-Kokhba terjadi. Pada
waktu itu masih ada kira-kira 6 juta orang Yahudi yang
tinggal di daerah Kekaisaran Roma tetapi hanya 40%
yang masih tinggal di Israel. Orang Yahudi yang masih
belum mengungsi dari Israel ini mulai memberontak.
Selama pemberontakan, orang Yahudi merebut banyak
tanah tetapi akhirnya mereka dikalahkan dalam perang
Bethar.
Pemberontakan Bar-Kokhba
Di bawah kepemimpinan Shimon Bar-Kokhba, orang
Yahudi telah merebut 50 benteng di Palestina dan 985
kota dan desa, termasuk Jerusalem, dari tangan
Kerajaan Roma. Mereka mencetak uang logam dengan
perkataan “Kemerdekaan bagi Israel” ditulis dalam
bahasa Ibrani. Bar Kokhba berhasil mengusir Roma dari
Yerusalem dan Israel dan mendirikan negara Yahudi
tetapi hanya untuk waktu yang sangat singkat saja.
Kemudian datang tentara Roma besar dari Mesir,
Inggris, Siria dan lain tempat. Dengan demikian orang
Yahudi dikalahkan dan diusir. Sejarahwan Romawi, Dio
Cassius, berkata bahwa 580,000 orang Yahudi dibunuh
dalam perang itu dan banyak orang lain mati karena
kelaparan, penyakit dan api.
Sesudah perang Bethar, orang Yahudi sudah kehilangan
kemerdekaan. Banyak dijual sebagai budak dan dibawa
ke Mesir. Kota dan desa Yudea tidak dibangun kembali.
Nama Yerusalem menjadi Aelia Capitolina dan orang
Yahudi dilarang tinggal di situ. Mereka hanya diizinkan
masuk Yerusalem sekali setahun pada tanggal 9 bulan
Av untuk meratapi kekalahannya. Nama Yudea diubah
oleh Hadrian menjadi Siria Palestina. Hadrian melarang
pelajaran Torah, Sabat, sunat, pengadilan Yahudi,
pertemuan di sinagog dan ibadah lain. Beberapa orang
menjadi syahid termasuk Rabbi Akiva dan Asara Harugei
Malchut (sepuluh orang yang mati syahid). Zaman
aniaya itu atas orang-orang Yahdi telah jalan terus
sampai tahun 138 sM.
Bukan hanya orang Yahudi yang dilarang masuk
Yerusalem, yang beragama Kristen juga dilarang. Untuk
pertama kali dalam 1000 tahun, sejak Raja Daud
menguasai Yerusalem, kota Yerusalem kosong dari
orang Yahudi.
Zaman Konstantin dan Byzantin
Pada tahun 324 M Konstantin menjadi pemimpin seluruh
Kerajaan Roma. Karenanya Kekristenan mengalami
perubahan besar. Dari agama yang
dianiaya, Kristen menjadi agama yang sah, bahkan
agama kekaisaran Romawi. Dampaknya besar di
Yerusalem. Gereja-gereja mulai dibangun di tempat
sakral di Yerusalem dan Israel dan banyak orang
berziarah ke sana. Kota Yerusalem sendiri bertumbuh
besar dan menjadi pusat agama Kristen. Ratu Helena
membangun gereja-gereja besar di tempat penyaliban,
penguburan dan kebangkitan Yesus. Yerusalem
ditransformasin menjadi kota Kristen yang besar dan
menarik banyak pengunjung dari seluruh Kerajaan
Romawi.
Pada tahun 438 M Ratu Eudocia mengizinkan orang
Yahudi kembali lagi ke Yerusalem. Eudocia
membesarkan Yerusalem ke sebelah selatan. Dia juga
bangun beberapa gereja, rumah sakit, rumah jompoh
dan lain-lain.
Zaman Farsi dan Arab mulai menguasai Wilayah
Palestina
Pada tahun 614 M Yerusalem dikuasai orang Farsi di
bawah pimpin Chosroes. Ribuan penduduk dibunuh.
Banyak gereja dihancurkan dan kerampasan dan
pencurian terjadi. Yang disakralkan sebagai Salib Yesus
dicuri tetapi pada tahun 628 M, Kaisar Heraclius
mengembalikan pemerintahan Byzantium dan Salib pun
dikembalikan ke tempatnya.
Tetapi sepuluh tahun kemudian pada 638 M, Yerusalem
diserang oleh tentara Arab yang dipimpin oleh Umar,
Khalif Islam yang pertama, lalu wilayah Palestina-Israel
berada di bawah pemerintahan Khilafah Islam.
Ternyata kedatangan Mesias dan Kerajaan Allah tidak
membawa Israel berkuasa sebagai bangsa dan negara.
Namun demikian, sepanjang zaman, sejak 1500 sM
sampai zaman Khilafah Islam pada tahun 638 M,
bahkan sampai sekarang, tak pernah wilayah Israel-
Palestina kosong dari orang Yahudi . Sepanjang zaman
itu jutaan orang Yahudi yang tinggal di Timur Tengah
( Mesir, Siria, Afrika Utara, Arab Saudi dll). Walaupun
pada zaman Khilafah Islam jumlah orang Yahudi yang
tinggal di wilayah Palestina telah turun sampai 100.000
orang, namun wilayah itu kini sudah 3500 tahun tanpa
putus berpenduduk orang-orang Israel .
Artikel berikut akan melihat wilayah Palestina selama
zaman Arab dari 638 M, zaman Perang Salib bahkan
sampai Perang Dunia Pertama dan hancurnya Khilafah
Ottoman pada tahun 1917.
Tulisan untuk menambah wawasan, baik dari saya pribadi maupun dari kutipan sumber-sumber yang valid
Minggu, 03 Agustus 2014
Senin, 21 Juli 2014
Sejarah Kristen di Pulau Jawa
Mengenal Sejarah Kristen di pulau jawa.
*Kiayi Ibrahim Tunggulwulung dan Gunung Kelud kediri*
Ada satu kisah tentang Gunung Kelud yang bertalian erat dengan kepercayaan Jawa sekaligus berkaitan dengan masyarakat Kristen di Jawa. Saya ingin membagikannya kepada Anda. Sekedar berbagi, tidak ada maksud lain, karena saya yakin sangat sedikit dari Anda yang pernah mendengarkan kisah ini.
Konon menurut Babad Kediri, dahulu kala Raja Jayabaya memerintah di Kerajaan Kediri dia mempunyai 2 abdi terpercaya. Yang satu bernama Kyai Daha dan yang lainnya bernama Kyai Daka. Kyai Daha dijadikan patih yang setia dengan nama Buta Locaya. Kyai Daka dijadikan senopati perang unggulan dengan nama Tunggul Wulung. Kala Raja Jayabaya muksa, kedua abdi itu pun juga turut muksa dengan tugas yang berbeda. Buta Locaya ditempatkan untuk berjaga-jaga di Selabale (Gua Selomangleng?!) sementara Tunggul Wulung ditugaskan untuk menjaga kawah Gunung Kelud supaya letusannya tidak banyak merusak desa-desa sekitar. Menurut legenda yang berkembang, kelak Raja Jayabaya akan datang kembali, karena itu Tunggul Wulung bertugas untuk mempersiapkan kedatangannya. Sebuah keyakinan mesianik yang berakar kuat di kalangan orang Jawa.
Kisah melompat ke tahun 1840an. Tersebutlah sebuah nama bernama Kyai Ngabdullah, berumur sekitar 40 tahun. Dilahirkan dari keluarga priyayi di Juwana, Jepara, dia adalah seorang pamong praja di Jawa Tengah sekaligus seorang murid pesantren. Tampaknya atmosfer penjajahan ditambah dengan suasana keagamaan saat itu menghasilkan pergumulan batin di hati Kyai Ngabdullah. Pada tahun 1847, pergulatan batin ini membawanya kepada “laku ngelmu” ke arah timur dan selanjutnya mendaki Gunung Kelud untuk bertapa. Laku ngelmu ini tentu saja tidak melulu bermakna magis atau mistis, tapi juga bermakna filosofis karena dalam melakukannya Kyai Ngabdullah berusaha menangkap pelajaran hidup dari semua orang, guru dan kyai yang dia jumpai.
Dalam perjalanan pendakian, Kyai Ngabdullah bertemu dengan Endang Sampurnawati, seorang puteri bangsawan Kediri yang ternyata juga melakukan ziarah spiritual yang sama. Mereka sempat beradu ilmu filsafat dengan masing-masing menyodorkan sebuah teka-teki. Endang memberikan teka-teki,
Ono kemiri tibo saiki keno dijupuk dhek wingi, (ada kemiri jatuh hari ini, bisa diambil kemarin).
sedangkan Kyai Ngabdullah memberikan teka-teki, Ratu Adil mertamu, tamu mbagekake kang didayohi, sebiting tanpa sangu. (Raja keadilan bertamu, tamu menyilahkan tuan rumah, Sebiji ijuk tanpa bekal)
Teka-teki itu membuka diskusi di antara mereka tentang harapan akan Ratu Adil, sebuah konsep yang berkembang di dalam masyarakat Jawa. Akhir cerita mereka kemudian memutuskan untuk menjadi suami isteri dan bersama-sama bertapa di Gunung Kelud untuk bersama-sama merenungkan filosofi kehidupan.
Lalu mereka serempak menjawab teka-teki mereka yaitu : Nabi Isa (Yesus Kristus).
Demikianlah, selama 7 tahun akhirnya mereka berdua melakukan perenungan di Gunung Kelud. Karenanya Kyai Ngabdullah sempat dipanggil orang-orang sekitar kaki Gunung Kelud sebagai Ki Ajar Gunung Kelud, seorang guru filsafat kehidupan dari lereng Gunung Kelud. Di gunung inilah Kyai Ngabdullah menghabiskan waktunya untuk bertapa dan juga merenungkan semua filsafat kehidupan, dari filosofi Hindu, Budha, kejawen, Islam maupun filosofi Kristen yang saat itu sudah banyak diterima oleh masyarakat Jawa. Dari renungannya tersebut lahirlah karya Serat Dharmogandul, sebuah karya ilmiah khas Jawa berisi analisis tajam mengenai sejarah jawa dan kepercayaan-kepercayaan yang tumbuh dalam masyarakat Jawa.
Konon, pada tahun 1847, Kyai Ngabdullah menerima sebuah wangsit berupa tulisan “sepuluh perintah Allah kepada Musa” yang tanpa disadarinya telah muncul di bawah tikar semedinya. Memparalelkan dirinya sebagai Tunggul Wulung yang diutus untuk mempersiapkan kedatangan Raja Jayabaya, sejak itu Kyai Ngabdullah menemukan keyakinan bahwa dia juga diutus oleh Gusti Allah untuk menyebarkan lelaku hidup baru di kalangan masyarakat Jawa. Sejak itulah Kyai Ngabdullah berganti nama menjadi Kyai Tunggul Wulung.
24 Januari 1851, Gunung Kelud meletus dengan hebatnya, memuntahkan lahar dan lava yang mampu merusak desa-desa di bawahnya. Bagaimana dengan Kyai Tunggul Wulung? Sebelum meletus, dia sudah mendapatkan wangsit baru dari Gusti Allah untuk segera turun gunung supaya bisa menjelaskan iman barunya itu kepada orang-orang Jawa yang dia temui lalu pergi ke Mojowarno ( daerah di jombang jawa timur) sebuah desa dengan penduduk mayoritas Kristen Jawa saat itu.
Demikianlah Kyai Tunggul Wulung memulai perjalanan syiarnya di desa-desa sehingga mulai terbentuk kelompok-kelompok kecil Kristen di daerah Kepanjen dan Penanggungan Malang. Kemudian dia menuju Mojowarno untuk bertemu dengan pendeta J.E. Jelesma dan kemudian dibaptiskan dengan nama baptisan Kyai Ibrahim Tunggul Wulung. Dia mendapatkan sebuah kitab suci berbahasa Jawa terjemahan Dr. Bruckner dari Jelesma.
Menariknya, Kyai Tunggul Wulung kemudian kembali ke Jawa Tengah untuk menjadi seorang mubalig Kristen Jawa. Dia berhasil mewujudkan rasa nasionalisme dengan membentuk perkumpulan Kristen Jawa yang terpisah dengan Kristen Landa (Kristen Belanda). Dia dengan bangganya menunjukkan bahwa seorang Kristen Jawa itu sama martabatnya dengan seorang Kristen Belanda, karena itu dia selalu berdiri ketika harus berbicara dengan orang-orang Belanda.
Dan Ibrahim Tunggul wulung juga mendirikan Desa Kristen, sampai sekarang desa itu mayoritas penduduknya Kristen Fanatik.
Semua kisah di atas berawal dari pergumulan batinnya saat dia bertapa di atas Gunung Kelud. Satu lagi contoh kongkret, bahwa gunung berapi memiliki makna khusus di kalangan masyarakat Nusantara, terlebih di hati orang Jawa. Semoga menambah wawasan kita.
Sumber kepustakaan:
Bambang Noorsena,
Buku: Menyongsong Sang Ratu Adil, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2003.
CD kotbah: Sejarah pertumbuhan Kristen di jawa.
+Syalom Aleykhem+
Sabtu, 19 Juli 2014
Yesus Kristus dalam karya sastra Kahlil Gibran
Artikel Xavier Quentin Pranata, “Pujangga
Pengagum Kristus Asal Libanon” (BAHANA, No. 7/
Januari 2003), menarik bagi saya. Mengapa?
Karena selama ini kalangan Kristen di Indonesia
sangat jarang mengenal penyair Kristen Arab dari
Libanon itu. Menariknya, Gibran justru lebih dikenal
di kalangan Muslim.
Bulan Ramadhan kemarin, syair-syair Gibran juga muncul
di layar TV di sela-sela ceramah K.H. Abdullah Gymnastiar.
Episode terakhir sinetron Sephia juga ditutup dengan syair-
syair cinta pujangga yang lahir dari keluarga abuna
(sebutan pendeta di gereja-gereja Arab).
Perlu dicatat, Gereja Maronit adalah satu di antara
gereja-gereja rumpun Syria ( Syriac Christianity ),
yang masih mempertahankan bahasa Aram, bahasa
yang juga digunakan Kristus ( al-lughat as-Sayid al-
Masih ). “Injil adalah kesusasteraan Syria”, tulis
Gibran membanggakan warisan spiritual Gereja
Syria itu, “…dan bahasa Syriac/Khaldea adalah
bahasa yang paling indah yang dibuat manusia”.
Ternyata pula, “bahasa Yesus” ini telah mem
perdalam ekspresi dalam karya-karya Gibran. Saya
memberanikan diri untuk menyebut, Gibran adalah
penyair Arab terbesar yang menerima warisan
Kristen Syria, setelah Mar Efraim As-Suryani (wafat
373) yang dikenal dengan “Sang Kecapi Roh
Kudus”.
Yasu’ al-Mashlub : Yesus Yang Disalib
Kahlil Gibran bukan hanya pengagum berat Yesus
orang Nazareth, tetapi juga pengikut setia-Nya
sampai akhir hayatnya. Hal itu harus dikemukakan,
meskipun ia sangat muak dengan hierarki gereja,
yang dikritiknya habis-habisan sejak karya pertama
nya dalam bahasa Arab: Ara’is al-Muruj (Bidadari
Lembah), sampai karya terakhirnya dalam bahasa
Inggris The Wanderer (Sang Musafir). Gibran
mengkritik gereja dan negara, karena mereka
kerasukan roh pemujaan diri, kekuasaan dan
kekayaan yang tamak, segala bentuk ta’ashub
(fanatisme sempit), ekstremisme dan ketidakadilan.
Negara dalam hal ini, dinasti ‘Ush-maniyyah Turki
“mengibarkan bendera Islam” untuk menjajah ne
gara-negara Arab, termasuk Syria dan Libanon. Hal
yang sama ironisnya juga dipraktikkan justru oleh
mereka yang mengaku diri sebagai pengikut Yesus.
Tetapi yang patut untuk dicatat, bahwa kritiknya
yang sangat pedas dan tajam itu, khususnya dalam
karyanya al-arwah al-mutamarridah (Semangat
Pemberontak), justru semua itu diilhami oleh peng
hayatannya yang mendalam pada sosok yang
paling dipujanya, Yesus Sang Juru selamat. Dalam
kritiknya kepada “status quo” lembaga gereja,
misalnya, Gibran tidak bisa membayangkan,
bagaimana kita bisa membangun gereja dan biara
yang megah dengan kebun anggurnya yang luas,
sementara rakyat di sekelilingnya mendiami gubuk-
gubuk reot dan hidup menderita dalam kemelaratan
mereka. Kesalehan ritual diserangnya tak kalah
pedasnya. “Mereka mengangkat suaranya dengan
himne-himne pujian, tetapi memuliakan dirinya
sendiri terhadap tangisan dan rintihan pedih janda-
janda dan anak-anak miskin”. Karena itu, tulis
Gibran dalam al-Ajnihah al-Mutakassirah (Sayap-
sayap Patah):
Laa tad’u kahina ila janabi faraasyi, lianna
ta’azimahu laa takfaru ‘an dzunubi in kanat khatha
wa tasara’ bi ila al-janati in kanat bara. “Kamu
tidak perlu mengundang pendeta untuk berdoa di
samping tempat tidurmu ini, karena mantera-
manteranya tidak akan kuasa menghapuskan dosa
dan kesalahanku apabila aku melakukan kesalahan,
dan tidak mempercepat jalanku menuju ke surga
apabila aku melakukan perbuatan baik”.
Kahlil Gibran menemukan kunci kebahagiaan dari
ketidakberdayaan dan kemiskinan itu, justru dari
Khotbah Yesus di atas Bukit: Thubi lil masakina
biruh i, fainna lahum malakut as-samawat.
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
karena mereka akan memiliki Kerajaan surga” (Mat
5:3).
Sebagai seorang pujangga dan penyair, Gibran juga
menyerap semangat zaman mo-dern, tak terkecuali
ia juga membaca The Life of Jesus- nya Ernest
Renan, dan Zarathustra- nya Friedrich Nietzsche.
Namun kekagumannya kepada Nietzsche sama
sekali tidak meredupkan api cintanya kepada Yesus
yang terus menyala.
Pandangan “nihilisme metafisik” Nietzsche yang
memproklamirkan kematian Allah itu, ternyata pada
saatnya sangat mengusik jiwa religius dan rasa
ketimurannya. “Hakadza takallama Zaradusyta
(Demikianlah sabda sang Zarathustra)”, kata Kahlil
Gibran yang toh tetap terobsesi dengan “Manusia
Perkasa” ciptaan Nietzsche. Sebab bagi Gibran,
“Manusia Perkasa” itu tidak lain adalah Yesus
orang Nazareth. Simaklah, argumen Gibran dalam
syairnya Yasu’ al-Maslub (Yesus Yang Disalibkan):
Maa Aasya Yasu’a miskina kha’ufan, wa lam yamut
matuja’an, bal aasya tsa’ara wa shuliba
mutamaridan, wa mata jabaran. “Yesus tidak per
nah hidup dalam kemiskinan dan ketakutan. Ia
tidak pernah mati dalam penderitaan, tetapi Yesus
kaya raya. Ia disalibkan sebagai seorang pahlawan
perang, dan Ia wafat sebagai seorang patriot
perkasa”.
“Yesus sadar akan kekuatan-Nya”, tegas Gibran
dalam karya Inggrisnya Jesus The Son of Man ,
“dan Ia telah membuktikan-Nya di antara bukit-
bukit Galilea, di kota-kota Yudea dan Funisia”.
Dikeluhkan pula rasa mual seolah mengocok
perutnya, ketika ia mendengar orang menggambar
kan Yesus sebagai seorang yang lemah dan tidak
berdaya.
Penekanan Kahlil Gibran bahwa Yesus sadar akan
kekuatan-Nya, agaknya memang untuk menjawab
bahwa “sosok Manusia perkasa” itu bukan impian
Nietzsche belaka. Dia ada dan pernah hidup dalam
panggung sejarah nyata. Bagi Gibran, Yesus adalah
pribadi paling kuat dalam sejarah. “Hubungan
Socrates dan pengikutnya lebih bersifat mental”,
katanya, “tetapi para murid Yesus lebih merasakan
Ia selalu hadir ketimbang sekadar meresapi ajaran-
ajaran-Nya”.
Itulah misteri yang terus menerus mempesona
Gibran. Sebab sampai ajal menjemputnya, mungkin
pujangga Libanon itu tetap tak dapat mengeja
tuntas misteri tentang Dia dalam syair-syairnya. Te
tapi ia menikmati misteri itu, bahkan tenggelam
dalam samudera-Nya. “MemanggilNya Tuhan
terasa menjadi enteng,” tulis Suheil Bushrui,
mengutip pengalaman Gibran.
Karena itu berbeda dengan Nietzsche yang di pun
cak frustrasinya mengusir Tuhan dari hidupnya,
karena dianggap menghalangi otonomi diri manusia
untuk bebas dan berkuasa, sekalipun Gibran
mengkritisi praktek-praktek kemunafikan dan
kebejatan birokrasi gereja, dia justru semakin dekat
dengan Yesus, dan ia begitu yakin bahwa Pahlawan
dari Nazareth itu akan menjawab munajatnya:
“Andhur ya Yasu’ an-Nashiri, al-jalisu fii qalbi
da’irat al-nur al-‘aliy (“Pandanglah, O Yesus orang
Nazareth, yang bersemayam di pusat cahaya
tinggi),” serunya kepada Yesus dalam Yuhanna al-
Majnun (Yohanes si Gila), “Andhur, ayyuhar ra’iy
ash shalih, qad nah syata makhalibu wa hausyan
dhulu’ al-hamala adh-dha’ifu al-dzaiy hamalatuhu
‘ala mankabaik” (Pandanglah, O Gembala Yang
Baik, betapa hewan-hewan ganas itu telah
mencabik-cabik tulang belulang domba-domba
kurus dan lemah yang Kau panggul sendiri di kedua
pundak-Mu).
Pada hemat Gibran, kenikmatan berkuasa telah
membuat orang bisu, tuli, dan buta terhadap
penderitaan sesama. Dan itu juga berlaku di gereja.
Lalu Gibran mengadukannya kepada Yesus, betapa
rintihan perih orang-orang yang menderita dari
sudut-sudut gelap, tak didengar oleh para
mutakalim (teolog) di atas mimbar dan para
penguasa yang duduk di atas singgasana mereka.
“Ta’ala tsaniyati, ya Yasu’ al-Hayyi (Datanglah
kembali, Oh Yesus Yang Mahahidup”, tulis Gibran
selanjutnya, “wa idhrad ba’at ad dini min haikalika,
faa qad ja’aluha maghlur tatawa fiiha af’aa
rawaghuhum wa ih-talahum” (lemparkanlah para
penjual agama itu dari Bait Suci-Mu. Sungguh,
mereka telah menjadikan Bait Suci-Mu laksana lo
rong berliku dengan ular besar menghadang, dan
ular itu adalah tipuan mereka belaka.”
Katakan saja Laailaha ilallah , dan engkau tetap seo
rang Kristen!
Ungkapan di atas ditulis Gibran dalam bukunya
Iram Dzat al Imad (Iram, Kota dengan Tiang-tiang
Besar). Judul ini dipinjam Gibran dari sebuah ayat
dalam al-Qur’an yang menggambarkan kaum ‘Ad.
Orang Kristen tak perlu takut mengucapkan Laa
ilaha ilallah (cf. I Kor 8:4, teks Arab). Allah tidak
bisa dipenjara oleh tembok-tembok pemisah
agama. “Allah yang Mahabaik tidak mengenal
perpecahan dalam kata-kata dan nama-nama,”
kata Gibran menekankan kesatuan transendental se
mua agama.
Meskipun begitu, jiwa universalitasnya itu ternyata
tidak pernah menggeser sedikit pun posisi Yesus da
lam jiwanya, karena ia memahami kehadiran-Nya di
mana-mana. Dalam bahasa para penganut filsafat
perenial sekarang, Gibran telah mengalami “pas
sing over” (melintas batas) dalam penghayatan a
gama. Dalam semangat mencari kebenaran yang
lapang, Gibran menyelam jauh ke samudera hikmat
tanpa batas. Ia mendasar Qur’an, dan bersama Ru
mi ia mendendangkan “agama cinta”. Bersama
para yogi India ia “duduk bersila memahami Upanis
had”. Gibran membaca dari mana saja, dan tentang
apa saja. Tetapi akhirnya, ia toh “coming back” ke
pada Yesus, Sang Pahlawan dari Nazareth itu.
Mungkin, mengikuti para mistikus Kristen, dengan
spiritualitasnya yang “melintas batas” itu, sang
pujangga tidak lagi terlalu memandang baju, tetapi
isi. Bukan simbol, tetapi hakikat. Sebagaimana ia ru
panya memahami Kristus mahahadir secara kosmis
—juga di balik simbol agama yang berbeda-beda—
begitu pula ia memahami makna muslim secara
generik sebagai sikap “pasrah diri, berserah kepada
Ilahi”. Dan ketika kemarau kerontang
menggersangkan pepohonan di “Bukit Cedar ( Araz)
Tuhan,” dengarlah bagaimana ia merintih pedih
dalam syairnya Mata ahli ‘alash shalib (Bangsaku
telah mati di salib):
“Mata ahli alash shalib, matu lianahum lam yakunu
mujrimin. Matu lianahum lam yadhlumudh dhalimin,
matu lianahum kanu muslimin. “Bangsaku telah
mati disalib. Mereka mati bukan karena mereka
menjadi penjahat. Mereka mati bukan karena
mereka orang-orang-orang dzalim. Mereka mati
justru karena mereka muslim, orang yang pasrah
diri”.
Bukankah itu substansi atau intisari agama yang
sebenarnya? Ya, pasrah diri kepada Ilahi. Gibran
mengangkat simbol kemusliman itu justru dari
Yesus dan Jalan Salib-Nya? Baginya, salib Yesus
adalah “model” sikap pasrah diri yang paling sem
purna. Sebagai manusia ia taat kepada Bapa-Nya.
“Ia merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati,
bahkan mati di kayu salib” (cf. Flp. 2:6). “Bukankah
Ia merentangkan tangan-Nya di atas salib demi
merangkul kemanusiaan?”, tulisnya dalam Yuhana
al-Majnun (Yohanes si Gila).
Dan meneladani Yesus, lalu ia memproklamasikan
kasih tanpa batas dan persaudaraan dengan semua
orang. Menapaki Thariq al-Alam atau Via Dolorosa-
Nya, Gibran merangkul semua orang sebagai
saudara-saudari dalam cinta dan sebagai sesama
anak-anak Allah.
Jesus The Son of Man : Apakah Gibran mengakui
Keilahian Yesus?
Jesus The Son of Man, puncak mahakarya Gibran
dalam bahasa Inggris, dapat disebut sebagai
kristalisasi dari visi karya-karya Arabnya
sebelumnya mengenai sosok Yesus orang Nazareth
sebagai “badai yang menggelora”, yang menurut
beberapa kritikus telah diilhami oleh sebuah
intensitas yang melebihi bukunya The Prophet
(Sang Nabi).
Bagaimanakah perkembangan gagasan mengenai
Yesus pada karya terakhir Gibran yang sering
mengundang salah paham, khususnya
penekanannya pada aspek kemanusiaan-Nya?
Memang cukup sulit menyejajarkan pandangan
Gibran dengan rumusan kristologi tertentu.
Mengapa? Sebab Gibran berbicara soal Yesus
bukan dalam “bahasa dogma” yang baku dan kaku,
melainkan dengan “bahasa hati, getar lembut
nurani, dan percakapan jiwa” yang selalu hidup, dan
akan selalu terus mengalir, tidak pernah kering.
Justru karena alasan tersebut di atas, kita tidak
selalu mudah menangkap bahasa Gib-ran.
Misalnya, seperti salah satu tulisannya yang pasti
gampang mengundang salah paham. “Setiap
seratus tahun sekali”, kata Gibran “Yesus dari
Nazareth bertemu dengan Yesus orang Kristen di
taman sekitar bukit Lebanon. Keduanya berbin
cang-bincang lama, dan setiap kali Yesus dari
Nazareth mengatakan kepada Yesus Kristen:
“Sahabatku, saya khawatir kita tidak akan pernah
sepakat.”
Marilah kita mencoba memahami Gibran. Pertama ,
mengenai judul bukunya Jesus The Son of Man.
Gelar itu muncul 69 kali dalam Injil-injil sinoptik
(Matius, Markus, dan Lukas), justru disadarinya
tidak hanya berarti manusia biasa. Itulah gelar
eskatologis dalam nubuat Nabi Daniel, “seperti a
nak manusia”, yang diterapkan bagi sosok Mesiah
Ilahi yang akan datang (Daniel 7:13,22). Jadi,
nubuat tersebut menunjuk kepada “Manusia Masa
Depan”, yang dalam Diri-Nya menjalankan fungsi
penghakiman Ilahi, sekaligus pengejawantahan
Hamba TUHAN yang menderita, yang melemparkan
Diri-Nya sendiri dalam drama jagad raya mengenai
eksistensi manusia.
Kedua , Yesus dari Nazareth yang dipertentangkan
dengan “Yesus Kristen”. “Yesus Kristen” adalah
Yesus “ciptaan orang Kristen”, yang tidak lain
kristologi metafisik gereja dan khotbah-khotbahnya
mengenai mukjizat-mukjizat adikodrati Yesus, teta
pi justru semakin jauh dari “Yesus orang Nazareth”
yang lebih mengejawantahkan kasih kepada orang-
orang lemah dan miskin. Ini tidak berarti Gibran
menyangkal kemukjizatan Ilahi Yesus. “I have
spoken of these miracles” (Aku pernah bicara me
ngenai mukjizat-mukjizat-Nya), kata Gibran dalam
Jesus the Son of Man (1928), “which I deem but
little beside the greater miracle, which is the man
Himself (yang semua itu kecil artinya apabila
dibandingkan dengan satu mukjizat yang lebih
besar, yaitu kemanusiaan Yesus sendiri).
Satu hal lagi dari pandangan Gibran mengenai
Yesus yang kurang dipahami, yaitu ia berbicara
mengenai keilahian Yesus sebagai Sabda Abadi. “Ia
adalah Sabda Allah, Tuhan kita”, tulis Gibran, “yang
membangun rumah dari daging dan tulang, hingga
menjadi manusia seperti kita”. Jadi, serempak
dengan penekanannya pada kemanusiaan-Nya,
Gibran juga menunjuk keilahian-Nya sebagai Sabda
Allah yang kekal. Dalam bahasa Gibran gelar
Kristus lebih menunjuk kepada Sabda, sedangkan
Yesus adalah kemanusiaan yang dikenakan-Nya di
bumi. Dalam beberapa edisi Indonesia, ada kalimat
Gibran dalam Jesus The Son of Man yang
diterjemahkan secara kurang jelas:
He was Jesus the Nazarene who would lead his
brothers to The Anointed One, even to the Word
which was in the beginning with God. “Dia adalah
Yesus orang Nazareth yang akan membimbing
saudara-saudaranya kepada Dia Yang Diurapi
( Kristus ), bahkan kepada Sabda yang sejak kekal
bersama dengan Allah”.
“The Anointed One” adalah terjemahan yang lazim
dari ungkapan Mesiah atau Kristus , dan bukan
seperti dalam beberapa edisi Indonesia “satu
kemuliaan”. Jadi, Yesus orang Nazareth adalah
perwujudan Kristus, Sabda Allah yang kekal, dalam
kenisbian ruang dan waktu. “Roh itu adalah tangan
Ilahi yang Mahatahu, dan Yesus adalah harpanya”,
kata Gibran. Putera Manusia adalah model
kemanusiaan yang sempurna, yang harus diikuti
oleh semua manusia, yang adalah saudara darah
dan daging-Nya, untuk menyatukan diri dengan
Kristus. Kristus itu, tidak lain Sabda yang sejak se
mula bersama Allah.
Dengan kalimatnya yang tegas ini, Gibran
membuktikan bahwa pandangan Gibran tidak
berbeda dengan ajaran Gereja. Memang, apa yang
muncul dalam perdebatan konsili-konsili gereja
awal, sama sekali tidak bermaksud menuhankan
manusia Yesus, — yang meminjam istilah Gibran,
—“rumah daging dan tulang” yang dibangun oleh
Sang Sabda itu, melainkan mempertahankan
keilahian hypostasis-hypostasis Ilahi yang satu
dalam Allah, yaitu Sabda dan Roh Allah yang kekal
bersama Allah sendiri, dan bukan mempertuhan se-
suatu di luar Diri-Nya.
Selanjutnya, persoalan kristologis yang menyusul
tinggal bagaimana nisbah antara Sabda Ilahi dan
kemanusiaan-Nya itu, yang selalu menarik bagi
para teolog, mungkin sama sekali tidak menarik
bagi sang Penyair Lebanon itu. Sebagai seorang
pujangga Kristen, minimal ia menyarankan signifika
nsi Yesus di alam semesta dengan tamsil-tamsil,
menggunakan bait-bait dan imaji untuk me
ngungkapkan hal-hal yang tak terungkapkan.
Sebagaimana William Blake, Gibran berusaha
mendefinisikan hal-hal yang gaib dalam bentuk
yang dapat dilihat oleh mata. Maksudnya, ia
merasa lebih ekspresif mengungkapkan Yesus Sang
Putera Manusia, yang tidak berbeda dengan kita
manusia pada umumnya, untuk menemukan makna
kemanusiaan itu sendiri.
Dikutip dari Tulisan Pak Bambang Noorsena,
Penulis adalah ketua Institute for Syriac Christian Study.
Hidup itu Rencana TUHAN
- Dr aku merenungkan Hidup ini berdasarkan alkitab, Hidup adalah Rencana, bukan Pilihan. Sekuat apapun dan sepintar apapun kita memilih kmdian bertahan pada pilihan, kl Sudah Tuhan rencanakan lain, mka pilihan itu sia2 blaka Contoh... saat Adam dan Hawa di taman eden, apakah saat menciptakan manusia DIA gk bakal tau kl adam dan Hawa akan terjatuh dalam dosa? Pasti DIA sudah tau bukan?? Kl hidup ini bukan RencanaNya, knp Pohon pengetahuan di biarin di tengah taman eden tnpa di jaga oleh Kerub (malaikat dg pedang menyala-nyala), baru setelah mereka jatuh dalam dosa, pohon pengetahuan dan pohon kehidupan baru di jaga oleh kerub, lalu knp Tuhan hny melarang utk makan pohon pengetahuan, padahal dstu jg ada pohon kehidupan? Kok yg di larang cm buah pohon pengetahuan yg gk boleh di makan. Contoh lg: Saat bangsa israel memilih murtad, menyembah Ba'al, Knpa sampe Tuhan menyuruh Nabi2Nya utk kembalikan bangsa Israel pada RencanaNya? Kan Allah bs pilih bangsa lain. Krna JanjiNya kpd Abraham?? Allah bisa kok pilih bangsa lain yg dr keturunan Abraham dan Ishak juga... Bangsa Edom juga keturunan Ishak dan cucunya Abraham. Knp kok Israel, yg sudah berkali2 memilih nyembah baal dan sering murtad?? Sampai Tuhan Yesus sendiri turun ke dunia merendahkan DiriNya menjadi Manusia, demi mengembalikan RencanaNya semula utk kehidupan kekal manusia. Hidup ini bukan pilihan, dan Tuhan tdk pernah memberi pilihan pada manusia... Ingat lagu "Semua baik" Awal liriknya kan "Dari semula, tlah Kau tetapkan, hidupku dlam TangannMU, dalam rencanaMU TUHAN... " Lagu itu betul, Mgkn ada yg bertanya "kita bs memilih krna mnusia pnya freewill (kehendak bebas)" Ok, kl utk kehendak bebas bukan berarti kita bebas memilih sehingga seakan hidup ini pilihan. Tuhan memberi kita kehendak bebas, namun tetap dalam batas. Gk prcaya? Kembali ke kasus awal manusia, adam dan hawa di taman eden, Adam dan hawa di beri printah berupa kehendak bebas sm Tuhan Kejadian 2:16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, #bebas kan?? Adam di ijinkan makan buah²an di taman eden, bhkan sebelumnya adam jg di ijinkan Tuhan menamai segala makhluk hidup, Namun kehendak bebas yg Tuhan berikan itu dalam batasNya... Kejadian 2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." #Tuhan membatasi jgn smpe adam memakan buah pohon pengetahuan, spy tdk mati... Apakah Tuhan gk bakal Tahu kl akhirnya adam dan hawa akan memakan buah pengetahuan?? Tentu sudah tahu dong, kan DIA Mahatahu segala sesuatu. Utk itulah sebelum manusia memakannya, DIA lebih Dulu memberi kutukan akibat memakan buah itu manusia akan mengalami mati. Lalu knpa manusia smpe mendengarkan iblis, Kl hidup ini bukan pilihan kita kenapa manusia lebih memilih hasutan iblis drpda taat pada Allah? mohon di renungkan ulang, Kejadian 2:16-17, Allah tdk memberikan pilihan, Pilih taat atau pilih makan buah itu, tetapi Perintah/Aturan, Dalam PerintahNya apakah Allah memberi opsi kepada manusia memilih? Tentu TIDAK. Kl kita simpulkan, Allah Berdaulat atas perintah/AturanNya... Di dalam PerintahNya terkadung Hukum. Allah memberi perintah/aturan, Bukan pilihan. Spt perintah²Nya, Jangan membunuh, jangan berzinah dll, apakah kita bisa memilih salah satu perintah utk di taati kita?? Tentu Tidak. Kita bisa aja tidak mentaati perintah, krna kita freewiil (kehendak bebas), tetapi itu bukan sebuah pilihan yg Allah berikan. Kl kita gk mentaati itu suatu tindakan pelangaran perintah Allah yg berdaulat. Allah berhak/berdaulat penuh utk menghukum si pelanggar, krna DIA yg Sang pemberi perintah. TUHAN Allah Adalah Allah yang BERDAULAT, Semua aturan dan larangan bersifat MUTLAK. Tidak ada OPSI kedua. atau dengan kata lain kita TIDAK ADA PILIHAN A dan B. Allah memberi kehidupan kekal, yaitu Rencana DAMAI SEJAHTERA bagi manusia (Yeremia 29:11). Tapi kenapa manusia akhirnya bisa MATI??? itu bukanlah.PILIHAN yang diberikan ALLAH. tetapi sebuah Pelanggaran dari HUKUM yang ditentukan Oleh Allah. Lalu bagaiman Dengan Freewill(kehendak bebas)nya manusia?? Apakah manusia tercipta di program spt robot oleh Tuhan?? Tentu Tidak. Buktinya DIA mengijinkan Adam menamai segala makhluk hidup, DIA membiarkan adam makan buah di taman eden dengan bebas, namun Dia melarang adam agar tidak makan 1 buah dr pohon pengetahuan. Walaupun TUHAN Allah melarang agar tidak makan buah pengetahuan, Dia tidak membangun tembok penghalang kok utk menuju pohon pengetahuan yg baik dan jahat. Jadi manusia dg bebas mengambil buah itu... Trs apa yg di maksud Freewill?? yang di maksudkan dengan FREEWILL adalah "kemampuan Manusia BISA atau DAPAT Bertindak sendiri, bukan bertindak saat di remote spt Robot. Applikasinya: Kita pnya kehendak bebas bermain dalam lingkaran namun kita terbatas gk bisa keluar dr lingkaran. Kl hidup ini pilihan, tentu manusia akan memilih yg enak² saja, dan dunia ini trlalu sempit jika manusia hidup memilih yg enak² saja. Kl hidup ini pilihan, coba renungkan pertanyaan ini... Knpa aku kok gk bs memilih agar aku terlahir sbgai org eropa, kok malah trlahir sebagai org indonesia? Knp ak gk bs memilih trlahir jadi anaknya jokowi, Kok trlahir dr klrga tak mampu atau sederhana?? Kl hidup ini pilihan knp ak gk bs pilih lebih baik aku gk terlahir drpda aku trlahir di dunia yg penuh kultur dosa?? Firman Tuhan jelas menyatakan bahwa kita hidup ini Rencana Tuhan... Yeremia 1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." Yesaya 55:8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. hidup ini sudah dlm rencanaNya Tuhan sudah men"design" manusia utk hidup kekal, Namun dg kejatuhan adam dlm dosa, Tuhan tetap pada rencanaNya utk hidup kekal manusia, Utk itulah Bapa mengutus FirmanNya dalam penebusan. Penebusan dosa yg di lakukan Yesus itulah utk mengembalikan citra awal manusia dr semula. +Hashem Yevarekhem+
Berani Bayar Harga
Kejadian 15:7-9 Lagi firman TUHAN kepadanya: "Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu." Kata Abram: "Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?" Firman TUHAN kepadanya: "Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati."
Seringkali qt baca Alkitab selalu menemui perkataan Janji TUHAN kpd Hamba2Nya, entah itu Janji Berkat, Janji PenyertaanNya, Janji keselamatan... lalu qt memegang janji Tuhan itu dlm kehidupan sehari hari.
Dalam Ayat renungan itu, Tuhan mengatakan penyertaanNya selalu dimanapun Abraham brada, qt pun jg sering spt Abraham yg kdg ragu tentang janjiNya yg lama bg Abraham.
Qt berdoa kpd Tuhan, namun jawaban Doa yg qt panjatkan tdk kunjung datang bhkan qt akan berpikir " Ah mungkin Doa ku gk sesuai dg Tuhan" atau "Aduhh TUHAN gk mendengar doaku"
Saat qt memikirkan Janji TUHAN dg Akal qt, maka qt tdk akan bs mengerti Rencananya Tuhan, qt akan spt abraham yg berkata : "Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?"
Qt jg akan spt logikanya Abraham saat menantikan janji Tuhan "Ya Tuhan dr manakah aku tahu, bahwa aku akan memiliki yg Engkau Janjikan?"
Ingat Janji Tuhan itu Ya dan Amin. Jika Tuhan berjanji mka akan terjadi. Waktu Tuhan utk menepati JanjiNya, Ia harus memproses qt sehingga qt memiliki iman, dan ketaatan.
Untuk mendapat Janji Tuhan, ada Harga yg harus di bayar, bagaimana qt harus bayar harganya?
1. Harus lewat proses
Kejadian 15:9 Firman TUHAN kepadanya: "Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati."
Tuhan ingin qt siap di proses lebih dlu, mempersembahkan apa yg qt punyai, bukan berani Ini hukum timbal balik "kau memberi, aku akan memberi", tetapi ini sebuah proses kerelaan qt mengorbankan apa yg ada pada qt, apa yg qt punyai.
2. Taat melakukan kehendakNya.
Kejadian 15:10 Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua.
Dalam ayat 10, abraham akhirnya Taat melakukan apa yg Tuhan Mau, dia tdk keberatan memenuhi apa yg Tuhan mau, abraham memberi persembahan tdk setengah2 dr kemauan Tuhan.
Qt juga jgn setengah2 saat mempersembahkan waktu qt melayani Tuhan di gereja, jgn setengah2 memberikan kolekte, setengah2 dlam hal utk Tuhan mau.
3. Menjaga sesuatu yg utk Tuhan.
Kejadian 15:11 Ketika burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu, maka Abram mengusirnya.
Abraham menjaga persembahannya agar tdk di makan burung buas,
Qt jg harus mnjaga apa yg qt persembahan. Saat qt persembahkan waktu utk melayani, qt harus menjaga hati qt agar berkenan di hadapan Tuhan, jangan biarkan burung buas yakni iblis menghalangi pelayanan qt, saat qt mau pelayanan ada perkataan " ah km gk pantes jd WL, suaramu jelek" dll. Qt harus mengusir burung buas yg coba makan persembahan qt kpd Tuhan, qt jg harus mengusir kekuatiran qt utk menanti janji Tuhan, spy prsembahan qt tdk di makan oleh iblis.
Utk mendapat Janji Tuhan, qt harus berani bayar harga, dg mempersembakan diri qt kepada Tuhan.
+Syalom Aleykhem+
Who i'am?
Orang katrok coba menulis dengan apa adanya,
ak adalah sosok yg misterius namun ada di kehidupan nyata :D
di lahirkan dr keluarga sederhana yg kondisinya antah berantah.
hidup mengembara di jalanan,
memegang rasa tanggung jawab pada setiap pekerjaan, relasi dan komitmen.
Mengalami jatuh-bangun imanku, bukan jatuh bangun mengejarmu loh, itu lagunya Megi Z yg belum A :D
katanya sihhh, ada yg bilang.....
Aku tuh orangnya pendiam,
Aku tuh orangnya cerewet,
Aku tuh orangnya sableng,
Aku tuh orangnya cuek,
Aku tuh orangnya menyakitkan dlm bicara.
Aku tuh orangnya Asyk klu diajak sharing,
Aku tuh orangnya edan klu bercanda,
dan lain sebagainya,
ya itulah penilaian manusia, relatif dlm menilai.
Pendapat qt baik mnurut qt, tp blm tentu baik menurut orang ini dg orang itu.
Pendapat orang baik, tp blm baik menurut qt.
itu pendapat manusia selalu relatif.
tp siapa aku?? Aku adalah diriku.
yg mencoba menjadi diriku sendiri.
Hidup itu sebenernya simpel, cm ak yg sempel :D
ak adalah sosok yg misterius namun ada di kehidupan nyata :D
di lahirkan dr keluarga sederhana yg kondisinya antah berantah.
hidup mengembara di jalanan,
memegang rasa tanggung jawab pada setiap pekerjaan, relasi dan komitmen.
Mengalami jatuh-bangun imanku, bukan jatuh bangun mengejarmu loh, itu lagunya Megi Z yg belum A :D
katanya sihhh, ada yg bilang.....
Aku tuh orangnya pendiam,
Aku tuh orangnya cerewet,
Aku tuh orangnya sableng,
Aku tuh orangnya cuek,
Aku tuh orangnya menyakitkan dlm bicara.
Aku tuh orangnya Asyk klu diajak sharing,
Aku tuh orangnya edan klu bercanda,
dan lain sebagainya,
ya itulah penilaian manusia, relatif dlm menilai.
Pendapat qt baik mnurut qt, tp blm tentu baik menurut orang ini dg orang itu.
Pendapat orang baik, tp blm baik menurut qt.
itu pendapat manusia selalu relatif.
tp siapa aku?? Aku adalah diriku.
yg mencoba menjadi diriku sendiri.
Hidup itu sebenernya simpel, cm ak yg sempel :D
Langganan:
Postingan (Atom)
